Untuk yang Terketuk

by Nurhalim

Menatap asa

Merajut bahagia

Menyaingi pinta

Bagai malam hanya awan

Bagai hujan hanya petir

Bagai sayap burung yang terancam

 

“Sungguh, orang-orang yang mendatangkan cobaan (bencana, membunuh,menyiksa) kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan lalu mereka tidak bertobat, maka mereka akan mendapat azab jahanam dan mereka akan mendapat azab (neraka) yang membakar”

 

Ya.

Pandangan setiap orang memang berbeda. Itulah keindahan yang dicipta.

Pasti kita tahu,

Sampul biru tidak membuktikan warna isinya.

Butuh pendekatan lebih untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya.

Ranting kering pun masih bisa bertahan untuk tetap hidup dan itu tak menjamin kegugurannya.

namun terkadang kita lupa

sifat lupa mengubah udara menjadi asap

mengerumuni jiwa sampai gelap

menutup mata  tak bisa meihat sampai mana diri berdiri

bahkan asap… bisa meracuni orang lain

tapi kita tidak sadar… sebenarnya diri sedirilah yang lebih banyak teracuni.

 

Merajut bahagia

mengetuk nurani yang mungkin masih bisa berkecambah di dlaam hati.

Sudah usang usia ini.

Lebih usang dari amal yang pernah terisi

Menyaingi pinta

Katakanlah pada hati yang selalu menuntun setiap langkah hidup yang bertasbih

Temukan hatimu. Cari ia disetiap butir amal yang pernah tersapu zaman

Diam

Lelah

Oh.. memang benar-benar mengucurkan banyak payah..

Ujung puncak mulai terasa

Batin ini mulai beremah sudah tak sekuat mula.. termenung dengan semua yang telah dilakukan.. teringat akan semua potret hidup penuh dosa dan menganggap tidak berdosa

Ketika itu, kaki mulai berhenti berjalan. Mata tertutup keriput sampai terpejam. Berusaha duduk namun terjatuh. Memang lelah perjuangan ini. Ditengah malam mencoba bersujud dengan memohon ampun. Sampai batas mana hati ini mulai terketuk.

 

Bagai malam hanya awan

Oh.. ternyata mulai tersadar. Syukurlah.

Tapi,,,

Sungguh mengapa merasa terhantam truk berkecepatan tinggi dengan muatan berton-ton batu bara yang mendarat tepat di depan dada.

Kaget. Tercengang. Sesak. Perih. Mual. Merasa ingin memuntahkan semua khilaf yang pernah laku.

Betapa tidak ?

Ternyata begitu banyak dosa yang terlontar pada mulut ini. Begitu banyak dosa yang tergerak dari jari jemari ini. Begitu banyak dosa yang masih tertanam dan terus tumbuh di hati mereka yang pernah tersakiti.

Mengapa aku buta ? mengapa aku baru sadar ? mengapa begitu tenang sekali ketika mulut ini, jari ini, dan pikiran ini setelah melakukan itu ? mengapa aku merasa bahwa itu adalah benar, itu memang harus terucap, itu memang harus diketahui, itu memang harus dilakukan, itu memang harus terjadi. Terjadi dengan cara seperti itu. Cara yang menurutku adalah benar. Karena aku lebiih tahu dibanding dia. Karena aku lebih dahulu dibanding dia. Karena aku lebih tersakiti dibanding dia.

Sungguh. Ternyata itu sama sekali tidak membawa perubahan bagi mereka. Bahkan yang terjadi hanyalah dosa jariyah yang mengalir pada diriku sendiri.

Caraku ternyata tak bermanfaat sama sekali. Aku egois. Aku yang terkadang menginginkkan orang lain mengerti perasaanku, mengerti keadaanku, mengerti sifat dan sikapku. Aku berusaha membuat orang lain dewasa tapi ternyata sesungguhnya diriku sendiri yang masih perlu panti.

Bagai hujan hanya petir

Bagai sayap burung yang terancam

Sedikit ataupun banyak, baik ataupun buruk, terkadang udara berubah cepat menjadi asap jika jiwa tidak bisa tenang, hati tak mencair, nurani hancur oleh hawa nafsu.

 

Menatap asa

Semoga masih ada nurani didalam hati untuk bisa kembali tumbuh.

 

Sikap tak terlepas dari anggota tubuh

Anggota tubuh tak  akan tergerak tanpa otak dan pikiran

Namun otak dan pikiran memiliki komando handal yang tidak bisa dilawan tapi bisa dikelabui..

yaitu hati

 

Hati ibarat kain

Kain bisa berubah menjadi pakaian indah yang membawa berkah

Kain juga bisa menjadi  pakaian indah yang membawa bencana

 

Ketika pakaian indah telah terwujud, jaga dan araahkan agar tetap membawa keberkahan.

Ketika kain mulai ternoda, basuh ia demi kembali menyucikannya.

Ketika kain mulai robek, maka puncak jiwa mulai terancam

Dengan sabar, ikhlas dan kuat,..  jiwa raga harus mampu menahan rasa sakit tusukan jarum itu demi kembalinya barisan benang penutup robekan.

Namun satu hal yang harus menjadi alihan…

jaga ia agar tak tertipu oleh bunga yang membawa api.

Senin, 15 Januari 2017

Advertisements
This entry was posted in Halim. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s