Belai Gerimis Pagi Ini

by Aida Fadhilah
Setiap orang pernah kecewa, satu dua kali hal itu terjadi dalam hidup yang singkat ini. Jatuh, dan bermain dalam kubang lumpur menjadi andalan untuk berlama-lama di bawah. Enggan tuk berdiri dan berlari keringkan basah lumpur dengan angin kencang menerpa. Tamparan itu tak ingin ia rasakan lagi. “Aku di sini dulu, lelah. Biarkan aku mengambil napas barang sebentar,” elaknya sembari asyik mengaduk-aduk lumpur di pangkuannya.

Awalnya, aku hanya memelototinya gusar sembari menghentak-hentakkan kakiku di kubangan lumpur. Sejurus kemudian, aku malah duduk disampingnya, membantunya menuangkan lumpur ke pangkuannya. “Sudah kepalang kotor. Mungkin aku memang harus ikut menikmati masa-masa ini,” tuturku saat ia balik bertanya mengapa aku di sini.

Hebat! Aku tak ingin berdiri dan membersihkan diri. Lumpurnya seakan menghisap ujung-ujung syaraf responku. Aku terbuai dengan segala kenyamanan yang menyedihkan. Aku tak ingin bangkit dan berdiri.

Baginikah rasanya terpuruk dan pura-pura pasrah? Bertameng sabar tanpa ada ikhtiar ataupun tawakal yang menyertai. Kalah dan menyerah tanpa harus memulai kembali. Duh, bukankah aku mendzalimi diriku sendiri?

Gerimis datang membasuh ubun-ubunku dengan manja. “Aku ingat belaian lembut ini!” Kenanganku membuncah. Tiap detik dan gestur memori yang tertuju padaku memeluk hatiku yang mulai bergetar hebat. Ya, aku ingat alasan aku berada pada jalur penuh lubang ini. Aku ingat alasanku untuk bangun setelah tersungkur karena jalan berbatu ini. Ia, sosok itu, alasan aku tak pedulikan bilah-bilah kata maupun laku mengerikan dari mereka yang menghakimiku sepihak dan coba perlahan membunuhku dengan itu semua.

Lalu, sosok itu datang dengan senyum tulus berada di wajahnya. Dijulurkannya kedua tangannya menangkap pundakku yang layu. Aku meraih tangan kanannya, membawa punggung telapak itu ke pipiku dan menciumnya. Hangat mengalir dari tangannya, melelehkan air mata yang menjadi pertanda masih hidupnya sang hati manusia. Ya, aku menangis sepuasnya.

Tangan kirinya membelai kepalaku, lalu mengusap air mata di pipiku. “Ndak pa-pa, Nduk!” tegasnya hangat. Ia mengangkatku, mengeluarkan aku dari lubang lumpur itu. Tak segan ia menunduk, meraih tungkaiku dan membersihkan kerak-kerak lumpur dengan jemari tangannya. Setelah selesai, ia memegang tanganku erat sebelum melangkah pergi tanpa kata. Dan aku masih menangis di sini.

Dalam lakunya, ada doa dan harap teramat besar yang menyengat tiap ujung syarafku yang bersentuh dengannya. Ada napas sesak saat ia mendapatiku asyik teralihkan dengan hal yang tak semestinya. Pun kata-kata tegas nan lembut itu, tiap hurufnya bersatu padu dengan nada bas yang kukenal sangat, merekam banyak kalimat lain yang tak dapat ia sampaikan. “Semesta akan mendukungmu dalam hal kebaikan. Aku bangga padamu, tetaplah menjadi kebanggaanku. Dan aku, mencintaimu putri kecilku.”

Air mataku yang deras menghapus sisa lumpur yang menempel di diriku. Angin pun tak langsung menjatuhkan, karena ia telah membuat jalan dengan korbankan tubuh yang semakin menua itu untuk membelah angin yang menguji. Ia berjasa dalam hidupku, dan aku adalah hidupnya.

Mungkin ia memang tak berlari bersamaku. Namun, ia kerjakan tugas-tugasnya dengan pamungkas. Ia datang saat aku selalu membutuhkannya, lalu pergi saat tugasnya selesai. Ia menjelma dalam doa dan harap yang terpanjat olehnya setiap detik, tanpa ada yang kuketahui. Dan baginya, putri kecilnya ini patut dibiasakan untuk mandiri, berlari sendiri tanpa harus didampingi lagi. Ia tetap mengawasiku dalam setiap langkahku, dimulai saat pertama ia melepas tangannya dari tatihan yang ajarkan aku berjalan di atas dunia.

Untuk kau yang selalu ada di balik Ibu yang nyatakan rindu. Terima kasih, Bapak.

Bogor, 15 Januari 2016

Advertisements
This entry was posted in Aida. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s