Semester Lapan, Jangan Takut!

by Sumaiyah

Teringat saat dulu. Baru saja masuk SD, tanpa sabarnya aku ingin cepat SMP. Memasuki fase baru dengan teman-teman yang baru pula. Aku pun tak sabar ingin masuk SMA. Lalu, aku ingin cepat beranjak masuk ke dunia perkuliahan. Yang kata FTV, kuliah itu menyenangkan. Kuliah itu bebas berekspresi dalam hal apapun.

Melewati fase-fase itu tentunya tidak mudah. Bak semudah membalikkan telapak tangan. Saat-saat terakhir keluar pun baik SD, SMP maupun SMA tentunya semangat membara itu ada. Semangat untuk menjadi terbaik itu selalu terngiang dalam hati dan pikiran. Berharap bisa mempersembahkan medali untuk sekedar melihat simpul senyum kedua orang tua.

Aku, merasa bukan seperti diriku yang dulu. Merasa lemah dengan banyaknya tuntutan. Merasa tak punya kekuatan untuk menggugurkan riset. Merasa selalu kurang bisa dalam menerka tiap reaksi yang terjadi. Merasa tak berdaya saat dosen berkata harus “a”, “b”, dan seterusnya.

Aku takut memasuki babak baru ini. Babak yang aku pun tak tau bagaimana cara memulai. Apalagi sampai finish. Babak yang aku yakini betul akan terjadi perang besar. Sebab, aku akan berperang dengan diriku sendiri. Perang melawan rasa malas, rasa bosan, dan rasa yang tak mampu diterka.

Setiap detik setiap menit setiap jam aku hitung mundur. Aku selalu menebak-nebak apa yang akan terjadi esok hari? Rasa takut itu selalu mengikuti langkahku. Aku menerka apa yang tak harusnya aku khawatirkan. Kata seorang teman, “Jangan pernah takut akan hari esok. Jangan pernah mengkhawatirkan apa-apa yang belum tentu terjadi. Nikmati masa sekarang dan perbaiki apa yang belum benar.”

Bahkan langitpun tak khawatir akan kehadiran matahari. Yang dengan kedatangannya akan membuat langit tergantikan. Bahkan rumputpun akan tetap tegar meski hujan badai menerobos tiap celah daunnya. Bahkan Rasulullah tak pernah menyerah untuk menebarkan syiar Islam ke penjuru dunia meski dalam tiap langkahnya beliau harus menerima caci maki orang-orang kafir.

Lalu, apa yang membuatku takut memasuki fase terakhir ini? Fase yang tak seorang pun tahu bagaimana lika liku yang akan terjadi. Fase dengan jalan yang dilalui oleh setiap orang itu pasti berbeda. Fase yang tentunya akan berakhir. Ya, pasti berakhir.

Meski tugas dakwah sedang digeluti, jangan pernah takut tertinggal. Tugasmu hanya taat kan? Percayalah, Allah sebaik-baik perencana. Sesempurna apapun rencana kita tapi tidak sejalan dengan kacamata Allah, biarlah Allah menjadi penghapus di setiap rencana kita. Karena yang kita pikir baik, belum tentu tepat menurut-Nya.

Jangan lupa, jangan pernah lupa menghadirkan wajah dosen pembimbing dalam setiap do’a rabitahmu!

Cukuplah sabar dan shalat menjadi penolong bagi orang-orang beriman!

Bismillah, 10 Januari 2017

Advertisements
This entry was posted in Maiya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s