Suatu Perjanjian

by Putri Nur Azizah

Laksana Fatimah yang mampu mempermainkan emosi dengan bijak, bersanding Ali yang dapat menyimpan rapat sajak-sajak, begitulah cinta halus tak terkuak. Ia tersembunyi, begitu rapi, begitu jeli, begitu sepi.

Cukup desau angin yang kuceritakan kepada siapa rasa ini tertambatkan. Karena aku yakin, angin tidak akan mengkhianati perjanjian. Janji bahwa ia cukup menjadi pendengar saja, dan aku yang jadi tokoh utama bercerita. Ceritaku kemudian akan hilang, terkeping, seiring hembusannya. Begitulah perjanjian sore ini disepakati keduanya. Aku setuju, angin duduk bertopang dagu- pertanda siap menjadi pendengar keping kisah hidupku –sejak bertemu denganmu tentu

 

Kututup kisah dan kukumpulkan keping-keping cerita. Aku meminta angin membawa serta dan silahkan buang dimana saja yang ia suka. Kasih ini memang bukan untuk disampaikan, karena ia tidak perlu suatu balasan. Aku hanya perlu suatu pelarian, mengurangi sepersekian sesak yang tertahankan. Cukuplah kepingan rasa itu diutuhkan kelak di tempat sewajarnya ia utuh.

Laksana Ali, aku ingin menyimpan rapat sajak-sajak. Dan kamu, jadilah Fatimah yang mampu mempermainkan emosi dengan bijak. Jika Tuhan berkata “ya” kelak, kupastikan kepingan itu utuh dan layak, untuk kemudian dapat ku sampaikan apa-apa yang belum terkuak. Namun jika jawaban-Nya adalah “tidak”,  angin pasti mampu bersikap bijak.

Kamis, 12 Januari 2017

Advertisements
This entry was posted in Uti. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s