Tolong, Padamkan!

by Putri Nur Azizah

Aku bukan pujangga seperti kebanyakan. Tulisanku berhenti tepat saat kau memilih pergi. Jika mereka pujangga lain semakin bertumbuh dengan diksi-diksi pilu, aku kosong tanpa satupun kata baru. Bagiku, kau adalah pengendali. Saat seorang pengendali memilih berhenti, maka saat itu aku resmi menjadi tak terkendali. Artinya, jiwaku sudah tidak membersamai. Artinya, aku mati.

Maka tolong, jika kau hendak pergi, padamkan dulu mantra yang sudah menghujam sanubari. Tolong padamkan sebelum kau pergi. Jika memang terlalu sulit membersamai, bisakah sekadar berpura peduli? Kemudian dengan pelan buatlah aku mengerti. Toh aku tidak akan mampu menghentikanmu berlari. Setidaknya, buat aku memahami bahwa ada masa untukmu sendiri. Ada saat untukmu pergi.

Aku akan memilih untuk hidup setelah mantra itu kau jinakkan. Aku akan menata semua ruang hatiku dengan cekatan. Aku akan kembali persis seperti sedia kala, saat namamu bahkan belum terngiang di telinga. Aku akan menjadi aku. Aku akan seperti dulu. Sungguh.

Minggu, 14 Januari 2017

Advertisements
This entry was posted in Uti. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s