Ia Mengambil Hatiku

by Irma Yulistiani

Aku ingin memperkenalkanmu padanya. Ia yang telah berhasil mengambil dan menduduki singgasana di salah satu ruang dalam hati. Darinya, aku memahami bahwa tiada yang kecil di dunia ini, yang ada hanyalah persepsi yang dibatasi kedangkalan ilmu. Ia adalah IKK “ Ilmu Keluarga dan Konsumen ”, bidang ilmu yang tengah aku geluti di kampusku. Ah iya, aku tahu. Kamu baru pertama kali mendengarnya bukan?. Iya lah, ia hanya ada satu di Indonesia. Tepatnya di Institut Pertanian Bogor.

“Tak kenal, maka Ta’aruf”, begitu kalimat yang sering dipakai orang-orang untuk memperkenalkan diri, dan sekarang waktunya aku memperkenalkan dia padamu. Yups, IKK. Bahasa kerennya Family and Consumer Science. Ia adalah ilmu yang berkutat dalam ruang lingkup keluarga, perkembangan anak dan konsumen. Ia mengkaji berbagai fenomena yang ada dalam keluarga, perkembangan anak, dan konsumen berbasis keilmuan dan riset dalam usaha mencetak sumberdaya manusia yang berkualitas.

Benar, objek pertama dalam mata kuliah- mata kuliah jurusan ini ialah Keluarga. Mengapa keluarga? Karena ia merupakan fundamental unit in society. Artinya, apabila institusi keluarga sebagai pondasi lemah, maka bangunan masyarakat juga akan lemah. Ia menjadi penggerak penting dan penopang dasar dari pembangunan bangsa.

Aku rasa kamu mulai mengenalnya sekarang.

Ia mengajarkanku. Mengajarkanku berbagai hal yang menyentuh hati dan meluaskan pikiran. Mulai dari berbagai perubahan yang akan dialami individu saat mengarungi bahtera rumah tangga, pasang-surut dan kiat menciptakan serta mempertahankan keluarga yang harmonis, bagaimana seharusnya orang tua melakukan pengasuhan, menanamkan pendidikan karakter untuk mencetak generasi berkualitas, hingga sikap keluarga sebagai konsumen dalam menghadapi situasi ekonomi guna menjaga keutuhan rumah tangga.

Ia menyadarkanku. Menyadarkanku untuk bersiap dan bersiaga. Maka, aku mempersiapkan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pepatah arab mengatakan “Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara bendanya bengkok”. Artinya, bagaimana kita menginginkan anak sholih/ sholihah (generasi yang diharapkan) apabila diri sendiri pun belum mencapai kesholihan tersebut.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” -Q.S At Tahrim:6-

Firman Allah SWT tersebut menunjukkan pentingnya usaha membangun sebuah keluarga madani. Keluarga adalah tempat pertama dan utama seorang anak dididik dan dibesarkan. Apabila keluarga gagal mengajarkan kejujuran, perangai yang baik, semangat maupun kemampuan-kemampuan dasar, maka akan sulit sekali bagi lembaga lain untuk memperbaiki kegagalan-kegagalan tersebut.

Segala sesuatu yang dahulu ku anggap remeh, kini berubah menjadi sesuatu yang teramat penting untuk ku perhatikan dan ku lakukan.

Sekarang kamu mengenalnya kan?

Setelah kamu mengenalnya, aku harap tiada lagi pandangan kerdil terhadapnya. Sekali lagi aku katakan bahwa ia telah berhasil menduduki singgasana di salah satu ruang dalam hati.

Bahagia dan bersyukur karena Allah SWT menjadikanku bagian darinya.

Advertisements
This entry was posted in Irma. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s