Tentangmu: Sang Pemimpi yang Tidak Pernah Mati

by Aprily Anggia CS

Terkadang, kau akan menjalani suatu masa yang penuh akan impian. Saking penuhnya, ruang imajinasimu cukup berantakan dan sesak, sehingga kau mulai sulit bergerak. Jangankan pindah beberapa langkah, bergeser pun sudah terasa susah. Dan ujungnya kau hanya bisa terdiam, tidak melakukan apa-apa.

Namun berbeda jadinya ketika ada yang bertamu pada ruang imajimu. Lantas tidak merasa keberatan untuk membantumu menata satu per satu kotak impianmu.

“Ayo kita tebar manfaat! Aku ingin jadi dokter. Kalau kau?” Katanya suatu ketika tengah duduk bersamamu…

Kau masih hening. Melamun tepatnya. Melamuni mau jadi apa kau di masa yang akan datang, sambil menatap ke langit, siapa tahu ada jawabnya.

Hingga tiba dia menguatkanmu. Membuat sebuah tulisan bercerita dan memiliki energi untuk melecut semangatmu. Pada lembaran-lembaran kertas istimewa, satu per satu kalian isi dengan mimpi-mimpi kalian. Hingga dipersatukan lima orang pemimpi yang menuliskan apa yang diharapkan, ada kau dan dia di sana.

Kemudian kalian bertingkah sedikit gila. Meneriaki impian-impian kalian di pinggir pantai. Berharap suara itu tersampaikan, menjadi wujud nyata dari apa-apa yang ada di benak. Berharap larinya langkah-langkah kalian, tidak akan pernah jera meski panasnya jalan beraspal harus diinjak atau beceknya jalanan tergenang dan terjangan hujan.

“Aku tahu hidup ini cuma sebentar,” jawabmu suatu ketika duduk bertiga saja, “maka dari itu aku sadar betul ingin meninggalkan hal yang bermanfaat sebelum aku pergi.” Dua sahabatmu itu, menatapmu dalam-dalam.

“Yak, aku putuskan kuliah di kehutanan saja. Doakan impian membuat sekolah alam bisa terwujud,” begitu semangatnya engkau hingga membuat sahabat-sahabatmu tersengat energi semangat: berkaca-kaca.

Lalu kita menjalani impian-impian kita. Lulus bersama. Mendaftar pada tujuan masing-masing, sambil masih mengenang apa-apa yang sudah kita panjatkan. Tapi, manusia mana yang bilang perjalanan kita baik-baik saja? Buktinya ketidakmulusan kisahmu dan kisahnya membuat makna sukses menjadi berbeda: lebih bermakna.

Hingga tiba kau untuk pulang. Menengok kenangan dan kembali mengisi ulang memori. Hingga kau jatuh sakit, dan dia berkunjung.

“Kawan, aku ingin sekali ke Jepang….” ungkapnya tiba-tiba, buatmu bangkit dari tidur lalu mengatakan dengan penuh semangat, “aku juga!” Dan terulang lagi, ikrar kau dan dia menepati impian baru ini.

“High five!”

It’s always, as well as always. Itu selalu menjadi penutup ikrar kalian.

Selalu menganggumkan. Dia selalu datang dengan penuh impian, dan membuatmu tidak bisa menolak untuk diajak bermimpi. Bertualang lagi dan lagi…

Selalu mengejutkan. Sebab apa-apa yang kau impikan juga sama dengan apa-apa yang ia impikan.

Kau tidak peduli betapapun kekanakannya proses bermimpi itu, tapi selalu ada energi yang membuat kau tidak pernah berhenti: keyakinan.

Dia tidak pernah bosan, ikut membantumu merapihkan kotak impian di setiap pertemuan. Membuatmu bisa bernafas lega sebab adanya harapan.

Dia tidak pernah bosan, menjadi pemimpi.

Dan aku juga tidak pernah ingin berhenti bermimpi bersamamu, hingga itu terwujud.

Untuk sahabat baikku, Lyra…

3 Februari 2017

Advertisements
This entry was posted in Anggi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s