Zaman Ndagel

by Aprily Anggia CS

Ada orang-orang punya rumah, rumahnya luaaas sekali. Lahir ya di rumah itu, punya keluarga ya juga sama-sama tinggal di rumah itu. Jadi ya ramai-ramai, dengan berbagai karakter dan sama-sama faham kalau punya rumah yang satu.

Mereka tidak tinggal di lingkungan itu sendiri saja kok. Ya mereka punya tetangga juga. Punya banyak kawan juga. Punya tata-krama dalam bersosialisasi. Dan (yang terpenting) punya akses ke banyak lokasi.

Tapi anehnya, beberapa anggota keluarga di rumah itu suka sekali bercerita. Menceritakan apa-apa yang mereka anggap benar menurut paham sendiri. Menceritakan ke dunia luar, semua-mua perasaan buruk yang mereka cari pembenaran kepada tetangga-tetangganya. Padahal perasaan itu dari debu dan jelaga yang menumpuk pada kamar mereka masing-masing. Padahal, sudah ribuan nasihat datang dari anggota rumah lainnya, agar selalu sadar membersihkan dedebuan yang menebal di kamar, agar dirinya nyaman. Tapi mau dikata apapun juga, jika tidak ada kesadaran, tidak akan bergerak sesenti pun debu itu. Hingga, semakin penat lah dirinya, buramlah pengelihatannya.

Semakin besar suaranya bercerita. Menyalah-nyalahkan anggota keluarga yang padahal hanya menyampaikan aturan di rumah itu. Bersikukuh bahwa apa yang dia rasa atas nama tentramnya ‘dunia’, itu adalah yang paling benar. Kesana-kemari ia memunculkan aibnya sendiri. Bersepakat ‘iya’ pada aturan-aturan lain yang padahal hanya berupa pembenaran semata, pembenaran menurutnya.

Ah, entah…
Padahal sudah tergariskan benar pada aturan di rumah yang tidak hanya mengatur dunia, tapi juga kehidupan hakiki di sana. Masih saja menganggap masih ada yang lebih sempurna.

Ah, entah…
Jika dia lahir di rumah itu, apakah iya ia juga akan meninggal dengan baik di rumah itu pula? Jika tidak kembali ke kampung halaman setiap manusia, mau kembali kemana ia?

Tapi…
Semoga kembali ke rumah, bisa selalu membuatnya lebih baik.
Bukan rumah yang luas ini yang salah, juga mereka sebagai bagian dari penghuninya tidak patut disalahkan (bisa jadi karena mereka tidak tahu). Tapi yang salah adalah ego yang selalu puas untuk menyalah-nyalahkan kebenaran.

Rumah, dan orang-orangnya yang sedang ‘ndagel’. Semoga tidak lupa bersyukur! ^^

Sore di Jumat yang Rasulullah SAW. bilang mustajab hingga maghrib,
dengan segelintir doa agar kembali baik hati setiap kita.
3 Februari 2017

Dari penghuni rumah, Anggie Azure.

Advertisements
This entry was posted in Anggi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s