Labirin

by Rani Dwi R

Jendela bergorden buliran hujan ,rupanya semakin berkabut, menghapus pandangan  dalam remang bias langit magenta, tiba tiba  kudengar suara yang mencoba berdialog  dan perlahan berkata

“Menjadi tua itu lupa !, sebagian kehidupan membeku renggut ruh yang pernah jaya ,menjadi tua itu Lemah ! hidup dalam getir gemetar genggam sebuah gelas. Menjadi tua itu bosan ! ,perbedaan kisah nampaknya hanya terjadi pada kotak sandiwara didepan sofa rumahmu. Menjadi tua itu dilupakan ! beberapa raut kesal nampaknya hadapi Sengau bias terowongan telinga  , untunglah ribuan ekspresi itu di pandanginya dengan lensa tua berpixel luar biasa kecil , belum lagi Gumamnya Hari demi hari adalah detik yang sama untuknya namun tidak pada labirin labirin ingatan. Sungguh Liku likunya semakin terhapus, tidak ada tanah yang terkoyak karena jejak,  tidak ada para pencari jalan, bahkan  penyibak rahasia , tidak ada… labirin yang semakin tua, terhapus dalam diam pada setiap malam.’’

Desir angin menggelayup perasaan ku yg mengelompong, degup jantung berpacu semakin kuat dan cepat hingga hentikan kata diujung bibir, aaah!, kenapa ini , pitasuaraku seperti tercabut, pundakku seperti dicengkram, dan kemudian suara ruh itu pun berlanjut , semakin lirih rintih

“Sengaja tidak kubawa semua ingatannya akan kisah menakjubkan, tidaaaaaak…
agar kelak ia bisa bergumam panjang lebar bercerita atas ingatan yang tertinggal , agar ia masih punya kisah heroik , hanya untuk sekedar berkomunikasi denganmu, tentu bukan pada telinga beku . Percayalah,   Bukan efek analgesik obat, bukan lumatnya makanan, bahkan bukan rumah dengan kepala kepala yang putih itu, bukan , dibalik kursi rodanya ia menunggumu menjelajah, berpetualang diliku liku labirinnya yang luar biasa. Ia ingin meninggalkan ingatan yang tertinggal di ingatanmu, hanya itu”

jendela berjalan ini akhirnya berhenti, gordennya pun sudah mereda. Didepan rumah dengan jendela tua bertralis besi nampak puluhan kepala putih dengan garis ekspresi yang sama. Dengan jinjingan makanan  lumat yang cukup untuk satu sebulan,  pandanganku menoleh kebelakang  ,kutatapi  dengan jelas seseorang dengan garis ekspresi yang sama, beserta labirin yang hampir akan terhapus , dan ruh yang pernah berdialog. Ruh yang pernah jaya…

disamping seorang nenek,  2 januari 2016

Posted in Rani | Leave a comment

Tentangmu: Sang Pemimpi yang Tidak Pernah Mati

by Aprily Anggia CS

Terkadang, kau akan menjalani suatu masa yang penuh akan impian. Saking penuhnya, ruang imajinasimu cukup berantakan dan sesak, sehingga kau mulai sulit bergerak. Jangankan pindah beberapa langkah, bergeser pun sudah terasa susah. Dan ujungnya kau hanya bisa terdiam, tidak melakukan apa-apa.

Namun berbeda jadinya ketika ada yang bertamu pada ruang imajimu. Lantas tidak merasa keberatan untuk membantumu menata satu per satu kotak impianmu.

“Ayo kita tebar manfaat! Aku ingin jadi dokter. Kalau kau?” Katanya suatu ketika tengah duduk bersamamu…

Kau masih hening. Melamun tepatnya. Melamuni mau jadi apa kau di masa yang akan datang, sambil menatap ke langit, siapa tahu ada jawabnya.

Hingga tiba dia menguatkanmu. Membuat sebuah tulisan bercerita dan memiliki energi untuk melecut semangatmu. Pada lembaran-lembaran kertas istimewa, satu per satu kalian isi dengan mimpi-mimpi kalian. Hingga dipersatukan lima orang pemimpi yang menuliskan apa yang diharapkan, ada kau dan dia di sana.

Kemudian kalian bertingkah sedikit gila. Meneriaki impian-impian kalian di pinggir pantai. Berharap suara itu tersampaikan, menjadi wujud nyata dari apa-apa yang ada di benak. Berharap larinya langkah-langkah kalian, tidak akan pernah jera meski panasnya jalan beraspal harus diinjak atau beceknya jalanan tergenang dan terjangan hujan.

“Aku tahu hidup ini cuma sebentar,” jawabmu suatu ketika duduk bertiga saja, “maka dari itu aku sadar betul ingin meninggalkan hal yang bermanfaat sebelum aku pergi.” Dua sahabatmu itu, menatapmu dalam-dalam.

“Yak, aku putuskan kuliah di kehutanan saja. Doakan impian membuat sekolah alam bisa terwujud,” begitu semangatnya engkau hingga membuat sahabat-sahabatmu tersengat energi semangat: berkaca-kaca.

Lalu kita menjalani impian-impian kita. Lulus bersama. Mendaftar pada tujuan masing-masing, sambil masih mengenang apa-apa yang sudah kita panjatkan. Tapi, manusia mana yang bilang perjalanan kita baik-baik saja? Buktinya ketidakmulusan kisahmu dan kisahnya membuat makna sukses menjadi berbeda: lebih bermakna.

Hingga tiba kau untuk pulang. Menengok kenangan dan kembali mengisi ulang memori. Hingga kau jatuh sakit, dan dia berkunjung.

“Kawan, aku ingin sekali ke Jepang….” ungkapnya tiba-tiba, buatmu bangkit dari tidur lalu mengatakan dengan penuh semangat, “aku juga!” Dan terulang lagi, ikrar kau dan dia menepati impian baru ini.

“High five!”

It’s always, as well as always. Itu selalu menjadi penutup ikrar kalian.

Selalu menganggumkan. Dia selalu datang dengan penuh impian, dan membuatmu tidak bisa menolak untuk diajak bermimpi. Bertualang lagi dan lagi…

Selalu mengejutkan. Sebab apa-apa yang kau impikan juga sama dengan apa-apa yang ia impikan.

Kau tidak peduli betapapun kekanakannya proses bermimpi itu, tapi selalu ada energi yang membuat kau tidak pernah berhenti: keyakinan.

Dia tidak pernah bosan, ikut membantumu merapihkan kotak impian di setiap pertemuan. Membuatmu bisa bernafas lega sebab adanya harapan.

Dia tidak pernah bosan, menjadi pemimpi.

Dan aku juga tidak pernah ingin berhenti bermimpi bersamamu, hingga itu terwujud.

Untuk sahabat baikku, Lyra…

3 Februari 2017

Posted in Anggi | Leave a comment

If I Have a Time Machine

by Putri Nur Azizah

Well everybody, i’m pretty sure you ever watched Doraemon even once, didn’t you? You must be familiar with the magic tool which being the title of this essay. Yep, that’s a time machine. Nobita has that tool inside his desk. Now, tell me, do you ever think that if you could have a time machine by you yourself? What would you do?

Time machine is a sophisticated magic tool which can be used to travel for both past or future time of your life. It can help you to review your memory or to fulfill your curiosity about who you are in the next ten years. Now, i question “what would you do if you could have a time machine? which part of your life would you wanna visit and by what reason?”

Frankly saying, I got that question from my tutor when i had an opportunity to learn in Pare. I know that’s a simple question but it made me start to speak English finally (thankiess miss Firda). Even though what i answered is not a brilliant idea, but i wanna try to share it to you while increasing my ability in writing.

Well guys, for me, future is a sacred time you have to keep its sacredness, so let it be a secret. If i had a time machine, i would not visit my future. I would be a patient girl waiting for surprise ^^. And also, i wouldn’t visit my past. For me, reviewing your past life even more your bad memories just will hurt you yourself (again). I had tried my best to heal that wound, so it’s better for me not to break it. So, which part of my life i wanna visit?

Well everybody, i would not visit any time of my life because of many personal principal reasons i’ve told before. But if i got a time machine, i would share it to another people. I would make a time museum and let everyone visiting their life. Too many people felt disappointed because they failed to do a thing they should do in their past. So, i would let them fix it. But remember, the time given is limited.

That’s all. Thank you very much for your kindness to visit this am-bu-ra-dul post :’)

Rabu, 1 Februari 2017

Posted in Uti | Leave a comment

Penghujung Januari

by Sumaiyah

Di penghujung januari aku menemukanmu. Sebuah mata air yang mengalirkan kehidupan di sekitarnya. Yang menumbuhkan harapan baru dari keputusasaan. Yang memancarkan cahaya kehidupan atas redupnya tikungan sebuah impian. Yang mengalirkan energi positif dari setiap jejak cucuran mata airnya.

Di penghujung januari aku menemukanmu. Sebuah kata pasrah dan ikhlas. Pasrah akan ketentuannya setelah berulang-ulang kali menerima coretan.  Setiap coretan senja yang tak jarang mengundang air mata. Memang tak ada kata lebih indah selain ikhlas. Menerima senja yang kini bermetamorfosa menjadi langit. Yang harus kita yakini, bahwa esok pasti senja kan datang lagi membawa sekian banyak coretan yang membuatmu menjadi lebih tangguh. Tak perlu kau ditangisi. Lagi.

Di penghujung januari aku menemukanmu. Sebuah kepastian yang menggenapkan impian. Yang meskipun ia mundur satu bulan. Tak apa. Darinya aku belajar menunggu, seperti aku padamu. Aku, menunggu kamu untuk menggenapkanku.

Di malam penghujung januari aku ditemani hujan dan gelap. Basah kuyup sambil menyusuri gelapnya jalan menuju persinggahan. Sendiri, tanpa ditemani oleh orang yang dikenal. Darinya, aku belajar bahwa setiap kesusahan pasti ada kemudahan. Bahwa (pasti) Allah akan wujudkan doa-doa kita. Entah itu dalam waktu dekat ataupun lama bahkan bisa jadi Allah wujudkan untuk saudara kita. Dan darinya, aku belajar mandiri sebelum bersamamu.


Bismillah, semoga tetap tangguh sampai Sidang Komprehensif, yah.

01 Februari 2017

Posted in Maiya | Leave a comment

Selamat Tinggal!

by Putri Nur Azizah

Aku lupa bagaimana rasanya merindu. Terlalu lama hatiku jumpalitan tak menentu. Kadang seru, kadang biru. Beralasan sosok yang sama sedari dulu. Diam-diam hatiku tergerogoti semu. Terlalu lama, aku lupa merindu.

Terlalu sering hatiku ditarik ulur. Berulang kali ia memilih mundur, namun kau semai kembali bak bunga usai musim gugur. Hatiku babak belur.

Setelah semua, izinkan aku berbicara. Aku ingin terbebas dengan bahagia. Merelakan rasa untuk kemudian dapat dipeluk asa. Menjulang terbang, membungkam lara. Selamat tinggal, kau yang tidak pernah nyata.

Kamis, 19 Januari 2017

Posted in Uti | Leave a comment

Sendirian!

by M Affan Hanif

Siapa bilang aku sendiri? Tidakkah kamu lihat, ada penumpang lain di kereta itu? Hei, lihatlah, aku tidak sendiri. Ada aku, penumpang lainnya, mas mas yang bersih bersih, petugas pengecek tiket, dan mbak mbak yang berkata “Pop mie nya nggak ada mas, mau menu lain?” Oke, terpaksa aku menahan lapar sampai stasiun tujuan. Intinya, aku disana tidak sendiri. Hanya saja tidak ada yang menemani.

Mungkin, definisi sendiri menurut orang berbeda beda. Kamu benar ketika melihatku seorag diri di kereta itu tak ada yang menemani. Tapi aku juga benar karena aku tidak benar benar sendiri. Ini hanya masalah pandangan. Ya. Subjektivitas. Membuat orang suka berdebat. Padahal tidak terlalu penting. Tapi, agar kamu tahu, perjalananku kemarin, itu untuk mencari ketidaksendirian. Walaupun kenyataannya aku lebih sering sendirian. Padahal dalam kereta yang penuh sesak.

Sukoharjo, 1 Februari 2017

Posted in Affan | Leave a comment

Suara Merdu

by M Affan Hanif

Kau dengar itu? Suara yang tercipta dari aduan dua logam. Juga dari deru mesin. Juga sesekali dari klakson. Ya. Suara kereta. Aku bilang, ini suara merdu bagi sebagian orang. Mungkin kau tidak menyetujuinya. Aku bilang sebagian, bukan semua. Suara aduan logam antara rel dan roda besi kereta serta deru mesin dan sesekali diikuti klakson panjang dari lokomotif. Satu kesatuan yang merdu. Merdu, bagi mereka yang merindukan kampung halamannya. Merdu bagi mereka yang ingin bertemu sesorang. Merdu bagi mereka yang memang suka naik kereta. Mungkin bagi sebagian orang ini sangat mengganggu. Tapi sebagian orang lain tetap bisa tidur dengan nyenyak. Ah, kau saja mungkin yang terganggu. Coba cek pintu bordesmu. Jika suaranya begitu keras, mungkin pintunya terbuka. Atau, mungkin kau sedang berada di bordes. Terserah kau saja lah. Aku tetap bisa tidur nyenyak di kereta.

Sukoharjo, 1 Februari 2017

Posted in Affan | Leave a comment

Jangan Nyusul Dulu

by M Affan Hanif

Siang itu, rentetan tetes air jatuh membasahi siapa saja yang ada di bawahnya. Hujan. Mungkin bagi sebagian orang yang sedang berkumpul itu mengganggu. Kehadiran hujan tidak mengurangi kebahagiaan yang ada di perkumpulan orang tersebut. Hidangan yang tersaji terlihat sangat lezat. Dan memang lezat. Hidangan itu menunjang acara yang diselimuti kebahagiaan itu. Ini adalah pernikahan Zaki, kakak kelasku ketika SD sampai Kuliah, walaupun beda jurusan.

Setelah satu jam lebih mengendarai, lebih tepatnya menumpang, aku dan temanku memarkir motor di sebuah parkiran masjid. Masjidnya tidak terlalu besar. Biasa saja. Namun, tempat di samping masjid tersebut menyebarkan aura kebahagiaan. Tempat  yang mungkin awalnya kosong itu disulap menjadi sebuah tempat pesta pernikahan sederhana. Banyak orang berlalu lalang. Ada yang mengantre untuk salam salaman ke pengantin, ada yang mengantre mengambil hidangan, ada juga juru kamera yang siap mengambil foto siapapun.

“Oke, kita sholat dzuhur dulu aja.” Kataku pada Risko. Continue reading

Posted in Affan | Leave a comment

Terlena Dunia

by Khaerun Nisa

Cahaya di ufuk barat terlalu sederhana untuk membuatku melupakan setumpuk derita dalam hati. Aku butuh sesuatu yang lebih indah dari sekedar canda tawa. Aku butuh yang lebih kuat dari sekedat tekad. Aku butuh yang lebih cepat dari waktu. aku butuh sebuah pembelaan kenapa aku harus. aku butuh seseorang mengenalkanku makna hidup. Karena sudah terlalu lama langkah berjalan tanpa denah, mulut bersua tanpa doa, akal berpikir tanpa setir, hingga arah hidupku tak memiliki tempat dituju.

Terlalu lama warna pelangi hitam dalam hidupku. Bahkan seringkali matahari terik bagai hujan deras dalam kisahku. Aku yang dirundung sepi, keramaian pasarpun tak memperdengarkan suara yang membuatku tertarik. Bukan banjir bandang yang menerjang. Bukan pula batu besar yang mengahadang. Angin topan pun bukan alasan kapal hidupku berlayar jauh dari rotasinya. Tapi memang kapalku berlayar otomatis, semakin jauh dari jalur dengan harapan harta karun emas bisa ditemukan.

Tulisan Lama

Posted in Nisa | Leave a comment

Segelas kopi…

by Khalik Kusnandar

Bila pagi ini mulutmu menyeruput segelas kopi
Jangan kau tanyakan mengapa ia panas
Itu karena kebodohanmu
Meminumnya panas-panas

Bila pagi ini kau masih menyeruput segelas kopi
Jangan kau tanya mengapa ia pahit
Itu karena kebodohanmu
Meminumnya pahit-pahit

Bila pagi ini masih kau seruput segelas kopi
Jangan pula kau tanyakan mengapa ia hitam
Karena hitam adalah sebuah keadaan yang telah ditetapkan, kemudian dijalankan

Kusnandar

Posted in Khalik | Leave a comment